SUNNII-SALAFIYAH

Meluruskan Pemahaman terhadap Al-Quran dan As-Sunnah sesuai Pemahaman Ulama Salaf dan Ulama Muktabar

Tampilkan postingan dengan label Syiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syiah. Tampilkan semua postingan

USTADZ SOLMED SEBUT INDONESIA DARURAT WAHABI, PENEBAR FITNAH

Tweet Ustadz Solmed ]

Beberapa hari terakhir ini, Ustadz Sholeh Mahmoed Nasution atau yang dikenal dengan nama Ustadz Solmed begitu vokal menyuarakan pemikirannya tentang Wahabi di Indonesia. Hal ini dapat kita lihat melalui akun Twitternya di alamat @SholehMahmoed. Dalam kultwit terbarunya tertanggal 23 Oktober 2015, Ustadz Solmed menuliskan twit yang berjudul “Indonesia Darurat Wahabi“.

Sebelumnya Ustadz Solmed juga telah menuliskan kicauannya yang berhubungan dengan permasalahan Syiah vs Wahabi di Indonesia. Menurutnya Syiah dan Wahabi itu seperti kotoran unta yang dibelah dua, sebagaimana beliau kutip dari perkataan Imam Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad rahimahullah (wafat: 1.132H) dalam kitab “Tatsbiitul Fu-aad”. Ustadz Solmed juga menjelaskan bahwa saat ini Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di tanah air ingin diajak oleh Syiah dan Wahabi terlibat konflik perseteruan mereka.

Beliau pun mengingatkan umat Islam akan bahaya Syiah yang gemar melakukan taqiyyah dan Wahabi yang gemar melakukan fitnah yang dapat memecah belah persatuan ummat. Kemudian, beliau pun mengajak umat Islam untuk bersatu, dapat saling menghargai perbedaan dan tidak membesar-besarkan persoalan khilafiyah di tengah ummat, serta jangan biarkan perang saudara terjadi di negeri ini.

Berikut adalah kultwit Indonesia Darurat Wahabi oleh Ustadz Solmed (@SholehMahmoed):
  1. INDONESIA DARURAT WAHABI (siap-siap dituduh Syiah). Tempat wahabi bukan di Indonesia. Indonesia itu tanah Ahlussunnah bukan tanah Ahlu fitnah.
  2. Silahkan melakukan amal dari ajaran dan tafsiran gurumu tapi tak perlu kau hina orang yang beda amalan denganmu.
  3. Kau fitnah yang tahlil dengan BID’AH. Kau fitnah yang ziarah qubur & berdoa kepada Allah di sana dengan SYIRIK. Perayaan maulid kau tuduh KELUAR SUNNAH.
  4. Silahkan gunakan tafsiranmu untuk ibadahmu, jangan kau jadikan tafsirmu untuk menghina, mencaci & memaki saudaramu yang tidak sejalan denganmu.
  5. Jangan menjadi virus perpecahan di tengah Ummat. Jangan kau tarik perang saudara & kepentinganmu di Timur Tengah ke tanah pertiwi kami Indonesia.
  6. Kuatkan persatuan, perhatikan kepada siapa anak kita mengaji, tanya anak kita apa yang diajarkan gurunya kepada dia. Waallahul Musta’aan.
Ustadz Sholeh Mahmoed Nasution, dalam akun Twitternya @SholehMahmoed, 23 Oktober 2015.


http://www.arrahmah.co.id

SEJARAH RINGKAS FAHAM SYIAH

Segala puji bagi Allah s.w.t yang menghidup dan mematikan kita. yang memberi nikmat iman dan Islam. nikmat kedua sebagai umat nabi s.a.w. tidak lupa juga selawat dan salam keatas penghulu kita nabi Muhammad s.a.w, isteri-isteri baginda, keluarga baginda, para sahabat yang pemberani dan juga mereka-mereka yang mengikuti sahabt sehingga ke hari akhirat.

Amma Ba'du, Ana bawakan sejarah ringkas FAHAMAN SYIAH dari Buku I'tiqad Ahlussunah Waljammah yang Dikarang oleh KH. Sirajuddin Abbas Cetakan Ke 8, Januari 2008, Terbitan Pustaka Tarbiyah Baru.

Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, ada seorang pendeta besar Yahudi yang masuk Islam bernama Abdullah bin Saba’. Sesudah masuk islam ia datang ke Madinah sekitar tahun 30 Hijriah. Ia mengira kedatangannya akan disambut dengan upacara kebesaran oleh Khalifah Utsman dan penghargaan besar dari umat muslim terdahulu. Namun sebaliknya ia tidak mendapati sambutan dan penghargaan. Akhirnya Abdullah bin Saba’ menjadi jengkel, kesal dan ia pun membenci kepada Khalifah Utsman. Kemudian ia pun mulai menghasut untuk menjatuhkan Khalifah Utsman. Ia berjalan ke Madinah, Mesir, Kuffah, Bashrah (Irak), Damsyik (Syiria) dan kota-kota lainnya untuk menyebarkan fitnah kekurangan dan kejelekan Khalifah Utsman bin Affan. Untuk menjatuhkan Utsman, maka Abdullah bin Saba mengagung-agungkan Ali bin Thalib dengan menyinggung hadits-hadits (sunnah Nabi SAW) yang banyak dirawi (diceritakan) oleh Ali. Tetapi ia juga membuat hadits-hadits palsu untuk merendahkan Utsman bin Affan, dan juga kepada Umar bin Khattab dan Abu Bakar. Dan ajaran-ajarannya mendapat sambutan dan antusias dari umat muslim ketika itu. Beberapa ajaran (pengajian) Abdullah bin Saba’ adalah :

  1. Al-Wishayah (wasiat), yaitu bahwa Nabi Muhammad SAW berwasiat supaya Imam (pemimpin) sesudah beliau adalah Ali bin Abi Thalib.
  2. Ar-Raj’ah (kembali), yaitu bahwa Nabi Muhammad SAW akan dibangkitkan kembali diakhir zaman seperti halnya kembalinya Nabi Isa Al Masih Alaihis Salam. Dan bahwa Ali bin Abi Thalib sama halnya seperti Nabi Isa bahwa ia belum mati tetapi diangkat ke atas langit dan akan diturunkan kembali kebumi untuk menjadi Khalifah terakhir (Imam Mahdi).
  3. Ketuhanan Ali (Ali Ar-Rabbi), yaitu Abdullah bin Saba mengajarkan bahwa dalam tubuh Ali bin Abi Thalib bersemayam unsur ketuhanan yang telah bersatu padu dengan tubuhnya, sehingga beliau bisa mengetahui segala perkara gaib. Oleh karena itu Ali selalu menang dalam peperangan melawan orang kafir. Suara petir adalah suara Ali dan kilat adalah senyuman Ali.
Pada intinya kaum Syiah bersyahadat : La ilaha illallah, wa Ali rasullullah. (Tak ada Tuhan selain Allah, dan Ali adalah Rasul Allah).

Syiah dalam bahasa Arab artinya pengikut. Syiah Ali berarti pengikut Ali. Tetapi arti Syiah dalam pengertian umum adalah kaum yang beritiqad meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW. Inti dari ajaran agama Syiah :

  1. Pangkat khalifah pengganti Nabi adalah harus diwarisi oleh ahli waris Nabi dan ditunjuk oleh Nabi sendiri dengan wasiat yaitu Ali bin Abi Thalib karena ia sepupu Nabi (anak paman Rasulullah SAW), ia juga menantu Nabi dan pahlawan Islam yang berani.
  2. Khalifah dalam Syiah disebut IMAM yang merupakan pangkat tertinggi dalam Islam Syiah. Imam utama ditunjuk oleh Nabi dan Imam-imam lainnya ditunjuk oleh Imam utama tadi. Orang-orang memilih khalifah (pemimpin) dengan musyawarah dianggap melakukan perbuatan dosa besar.
  3. Imam Syiah adalah orang yang maksum, artinya tidak pernah membuat dosa dan tidak boleh diganggu gugat dan dikritik segala ajarannya karena imam adalah pengganti Nabi yang sama derajat kedudukannya dengan Nabi.
  4. Imam masih mendapat wahyu dari Tuhan walaupun wahyu itu datang tidak dengan perantaraan Malaikat Jibril. Wahyu yang dibawa dan disampaikan oleh imam wajib ditaati.
  5. Orang-orang Syiah yang sudah sampai kederajat keimanan yang sangat tinggi, maka baginya sudah habis taklif (ibadah) sehingga tidak perlu sembahyang, puasa dan lain-lain.

BEBERAPA GOLONGAN DALAM FAHAM SYIAH

Agama Syiah terpecah lagi menjadi golongan besar, diantaranya :

  1. Syi’ah Sabaiyah (pengikut Abdullah bin Saba) yang mengatakan bahwa Jibril salah dalam mengirim wahyu yang mana seharusnya adalah Ali bin Abi Thalib yang menjadi Rasullullah.
  2. Syi’ah Kaisaniah (pengikut Mukhtar bin Ubai As Saqafi), tidak mempercayai adanya ruh tuhan dalam tubuh Ali. Mereka yakin bahwa para Imam Syi’ah adalah mashum (bebas dari dosa) sebagaimana Nabi dan Imam masih mendapat wahyu.
  3. Syi’ah Imamiyah, mereka percaya kepada Imam yang ditunjuk oleh Nabi Muhammad SAW yaitu Ali bin Abi Thalib sampai 12 orang keturunan Ali dengan Fathimah. Kaum ini menguasai tanah Persia (Iran).
  4. Syi’ah Isma’iliyah atau Syiah Sab’iyah (pengikut Aga Khan, di Pakistan), mereka hanya mempercayai 7 Imam.
  5. Syi’ah Zaidiyah (pengikut Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib). Kaum Syiah yang menguasai Yaman. Mereka berpendapat bahwa Ali lebih mulia daripada 3 sahabat Nabi yang utama, tetapi mereka tidak mengkafirkan 3 sahabat itu. Mereka menganggap bahwa seorang Muslim yang mengerjakan dosa besar akan kekal dalam neraka.
  6. Syi’ah Qaramithah, yaitu Syiah yang mentafsirkan Al Quran sesuka hatinya. Mereka mengatakanbahwa malaikat adalah mubaligh mereka, syaitan adalah musuh. Yang dinamakan shalat adalahmengikut malaikat. Haji adalah berziarah mendatangi Imam-Imam Syiah. Puasa adalah tidakmembuka aib kekurangan/kejelekan Imam dan rahasia Imam lainnya. Umat Syiah yang sudah mencapai pemahaman (iman) yang tinggi, maka baginya tidak perlu lagi beribadah.
  7. Dan lain-lain golongan Syiah yang tidak disebutkan karena pengikutnya yang sangat sedikit.

SILSILAH KHALIFAH (IMAM BESAR) DALAM FAHAM SYIAH

Agama Syiah berpendapat dan berkeyakinan bahwa silsilah Imam mereka yang utama adalah :

  1. Ali bin Abi Thalib (wafat tahun 40 H)
  2. Hasan bin Ali bin Abi Thalib (wafat tahun 50 H)
  3. Husein bin Ali bin Abi Thalib (wafat tahun 61 H)
  4. Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib (wafat tahun 94 H)
  5. Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali (wafat tahun 117 H)
  6. Ja’far Shaddiq bin Muhammad al Baqir (wafat tahun 148 H)
  7. Musa al Kazhim bin Ja’far Shaddiq (wafat tahun 183 H)
  8. Ali Redha bin Musa al Kazhim bin Ja’far Shaddiq (wafat tahun 202 H)
  9. Muhammad al Jawwad bin Ali Redha bin Musa bin Ja’far Shaddiq (wafat tahun 220 H)
  10. Ali bin Muhammad bin Ali Redha bin Musa bin Ja’far Shaddiq (wafat tahun 254 H)
  11. Hasan bin Ali bin Muhammad al Asykari (wafat tahun 260 H)
  12. Muhammad bin Hasan al Mahdi (menghilang lenyap sejak 260 H)
Imam yang ke-12 inilah yang dipercayai dan diyakini oleh kaum Syiah sebagai Imam Mahdi (di Indonesia faham ini bernama Ratu Adil) yang akan kembali pada akhir zaman untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dimuka bumi. Ia belum wafat tetapi bersembunyi di rumahnya di kota Samara’ (Iraq) sejak kematian ayahnya, karena ketika itu ia masih dibawah umur.


SUNNISYIAH
Khalifah yang pertama adalah Abu Bakar, kedua adalah Umar bin Khattab, ketiga adalah Utsman bin Affan.Ketiga Khulafaur Rasyidin itu terkutuk karena merampas kekhalifahan dari tangan Ali bin Abi Thalib. Imam (Khalifah) yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib.
Khalifah boleh diangkat dengan musyawarah Ahlul Halli wal ‘Aqdi.Imam harus ditunjuk oleh Nabi Muhammad SAW dengan wasiat.
Khalifah hanyalah orang biasa, tidak mashum dan tidak menerima wahyu dari Allah SWT.Imam masih menerima wahyu dan juga mashum (bebas dari dosa).
Tidak mempercayai adanya Khalifah Gaib. Hanya percaya kepada kekhalifahan terakhir bernama Imam Mahdi.Percaya adanya Khalifah Gaib yang akan keluar di akhir zaman.
Kepercayaan kepada khalifah bukan Rukun Iman.Kepercayaan kepada Imam adalah salah satu Rukun Iman.
Kitab kedua adalah Kitab Hadits Shahih Bukhari.Kitab yang kedua adalah Kitab Al Kafi karangan Ya’qub Al Kulni.
Mashaf Al Quran yang sah adalah Mushaf Utsman bin Affan.Mushaf yang sah adalah Mashaf Ali bin Abi Thalib.
Arti dari “Ahlil Bait” adalah famili (keluarga dekat) termasuk isteri-isteri Nabi SAW.Ahlil Bait hanyalah keturunan Ali bin Abi Thalib dari isterinya yaitu Siti Fathimah binti Muhammad.
Tidak menganut faham Wahdatul Wujud (serba Tuhan).Menganut faham Wahdatul Wujud (serba Tuhan) yaitu bahwa segala sesuatu itu pada dasarnya adalah perwujudan Tuhan.
Islam sudah cukup (disempurnakan) pada waktu Rasulullah SAW wafat.Islam masih belum cukup karena masih akan ada wahyu-wahyu Tuhan kepada Imam-Imam Syiah.
“Taqiyah” bukun Rukun Iman.“Taqiyah” adalah termasuk rukun iman. Raj’ah tidak ada. Mempercayai adanya raj’ah (reinkarnasi; arwah turun-temurun).

Tamat. Kandungan di atas telah diringkaskan kerana sangat panjang untuk diceritakan. Ana berharap sahabat yang ingin tahu lebih terperinci bolehlah beli di kedai-kedai kitab buku ini.

Bismillahirrahmanirrahim. Wasallallahua'la Saiyidina Muhammad Waa'la alihi Wasahbihi Wasallam.

kefahaman-selamanya
https://www.facebook.com

TATKALA MENGANGGAP DIRI LEBIH BAIK DAN BENAR

Ibrahim bin Adham suatu ketika sedang berjalan di tepi pantai. Tanpa sengaja, matanya melirik sepasang manusia berduaan dengan begitu mesranya. Terlintas di benak sufi ini bahwa sepasang kekasih itu sedang dimabuk cinta. Bukan hanya mabuk cinta, ternyata mereka juga sedang mabuk dalam arti yang sesungguhnya. Terlihat di sekeliling mereka beberapa botol minuman berseliweran, terdapat bekas botol yang baru saja selesai dikosongkan isinya. Beberapa saat, Ibrahim bin Adham terkesima dengan pemandangan yang dia lihat sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia berpikir betapa musykilnya sepasang manusia ini, bermaksiat sedemikian mudahnya, seakan tak ada dosanya.

Tiba-tiba dalam jarak beberapa meter di depan mereka, gelombang laut mengganas menerjang pinggiran pantai. Menghanyutkan sesiapa yang berdekatan, tak pandang bulu. Beberapa orang berusaha berdiri, berenang, dan berlari menjauh ke arah daratan. Sebagian mereka bisa melepaskan diri dari terjangan ombak. Namun nahas, lima lelaki tak kuasa diseret gelombang. Seketika, lelaki mabuk yang sedang bermesraan di pinggir pantai itu berlarian menuju ke arah lima orang yang hanyut. Ia berusaha menarik satu-persatu lelaki yang hampir terbawa arus. Ibrahim bin Adham yang melihat kejadian itu hanya bisa tercengang, berdiri mematung di tempatnya. Antara tercengang dengan kejadian yang terjadi begitu cepat di depan matanya dan juga tidak bisa berenang.

Sementara si lelaki ini begitu cekatan berlari dan berenang. Tak membutuhkan waktu lama, si pemuda mabuk tadi berhasil menyelamatkan empat orang. Kemudian ia kembali. Namun bukannya kembali ke perempuan yang tadi sempat ditinggalkan sejenak, lelaki ini justru menuju ke arah Ibrahim bin Adham. Belum terjawab kebingungan Ibrahim bin Adham, tiba-tiba saja, ia mengucapkan beberapa kalimat, padahal Ibrahim bin Adham tidak bertanya sepatah katapun.

“Tadi itu aku hanya bisa menyelamatkan empat nyawa, sementara kau seharusnya menyelamatkan sisa satu nyawa yang tidak bisa aku selamatkan.”

Belum selesai kebingungan Ibrahim bin Adham, lelaki ini melanjutkan, “Perempuan yang di sebelahku itu adalah ibuku. Dan minuman yang kami minum hanyalah air biasa.” Ia memberikan alasan. Seolah ia mampu membaca semua apa yang dipikirkan oleh Ibrahim bin Adham.

Kejadian sederhana itu mampu menyadarkan sang ulama terkenal, Ibrahim bin Adham. Seketika itu hati beliau dipenuhi sesal dan taubat. Lelaki yang sempat dianggap ahli maksiat ternyata jauh lebih baik dibandingkan beliau yang terkenal ahli ibadah. Kejadian itu begitu membekas dalam hidup Ibrahim bin Adham hingga wafatnya. Jika seorang Ibrahim sang Sufi saja bisa terjebak dalam perangkap itu, bagaimana dengan kita manusia akhir zaman?

Betapa seringnya kita berada di posisi menjustifikasi manusia. Atas sedikit fakta yang kita tahu tentang cuplikan kehidupannya, kita menuduhnya dengan stigma yang sangat tak pantas. Tatkala seorang teman yang tak menyapa ketika berpapasan dengannya sekali waktu, seketika kita beropini bahwa ia sombong. Padahal di balik itu, ia sedang dirundung masalah besar, bersedih, atau juga tak melihat kita. Di saat seorang teman tak memberi kita pinjaman uang, seketika kita menduga bahwa ia pelit. Padahal di balik itu ia sedang berusaha mendapatkan banyak uang untuk kebutuhan ibunya atau untuk membayar utang-utangnya. Di saat seorang karib tak memenuhi undangan kita, terlintas di benak jika ia seorang yang tak menghargai. Padahal di balik itu, dia mendapatkan sebuah tanggungan yang harus segera diselesaikan hari itu juga sementara ia sungkan untuk memohon izin dikarenakan penghormatannya.

Penyebab retaknya ukhwah dengan sesama salah satunya disebabkan urusan salah persepsi. Lalu melahirkan saling mencurigai dan saling bersu’udzon. Tak sengaja ketika kita menganggap seseorang berdasarkan persepsi kita maka yang terjadi adalah rasa kekecewaan terhadap semua orang. Sementara tanpa disadari hal ini juga membangkitkan rasa ego sedikit demi sedikit menjadi pribadi yang superior, tanpa cela, dan antikritik. Sampai akhirnya menganggap diri sendiri adalah segalanya. Sang manusia sempurna dan pemilik kebenaran seorang diri, atau kelompoknya semata. Betapa berbahayanya.

Jauh-jauh hari Nabi SAW mengingatkan, "Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dustanya ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563]. Pesan Nabi tidak sekadar nasihat biasa. Beliau mewanti-wanti supaya umatnya selalu menjaga diri. Betapa gelisahnya Nabi jika mengetahui ada diantara umatnya yang saling merendahkan sesama.

Berburuk sangka termasuk laku yang salah, pemantik dosa. Ketika seseorang berburuk sangka dan sangkaannya itu benar, maka sama sekali ia tak akan mendapat pahala apapun. Sementara jika ia berburuk sangka dan sangkaannya itu salah, maka pasti atasnya perbuatan dosa. Betapa tak bermanfaatnya berburuk sangka, menstigmaisasi, dan menghakimi seseorang dari apa yang sedikit pengetahuan kita tentang dia.

Bertemu dengan semua orang seharusnya menjadi cermin untuk diri kita untuk lebih baik lagi. Hal ini diawali dengan rasa saling percaya dan berbaik sangka. Ketika bertemu anak kecil, pikirkan bahwa bisa jadi ia jauh lebih baik dari kita, karena di umurnya yang sedikit, ia masih sedikit dosa dan salah. Ketika bertemu dengan orang tua, pikirkan bahwa ia jauh lebih baik dari kita, karena umurnya yang sudah sepuh, berarti ibadahnya pun jauh lebih banyak dibanding kita. Bertemu orang gila sekalipun ada kesempatan bagi kita berpikir positif, bisa jadi ia lebih baik dan lebih dulu masuk surga dibanding kita. Sebab, orang gila itu tidak dibebani syariat oleh Tuhan yang Maha Adil, sehingga ia tanpa cela. Terlebih ketika bertemu dengan manusia yang cacat fisiknya. Orang buta, tuli, bisu, bisa jadi mereka jauh lebih baik dari kita. Mereka tak pernah menggunakan inderanya untuk meliha, mendengar, dan mengucap dosa. Bukankah mereka lebih selamat di dunia dan akhirat? Lalu masihkah ada kesempatan kita merasa jauh lebih baik, lalu terbersit angkuh dan sombong, dan kemudian merendahkan manusia lainnya, bahkan kemudian menganggap bahwa pemilik kebenaran sempurna adalah sosok diri sendiri seorang? Wajarkah?

Wallahu a’lam bishawab.

Muhammad Ridha Basri, 
Santri-mahasiswa Lingkar Studi al-Quran (LSQ) Ar-Rahmah, Yogyakarta.

http://www.nu.or.id/

72 FIRQAH SESAT

Bughyatul Mustarsyidiin

Tersebut dalam kitab BUGYATUL MUSTARSYIDIN, karangan Mufti Syaikh Sayid Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar, yang dimasyhurkan dengan gelar Ba’lawi, pada pagina 398, cetakan Mathba’ah Amin Abdul Majid Cairo (138 H), bahwa 72 Firqah yang sesat itu berpokok pada 7 Firqah, yaitu:

1. Kaum Syiah
Kaum yang berlebih-lebihan memuja Saidina ‘Ali Karamallahu Wajhahu. Mereka tidak mengakui khalifah Abu Bakar, Umar, dan Usman Radhiallahu Anhum. Kaum Syiah kemudian berpecah menjadi 22 aliran.
2. Kaum Khawarij
Kaum yang berlebih-lebihan memuja Saidina ‘Ali Karamallahu Wajhahu. Mereka tidak mengakui khalifah Abu Bakar, Umar, dan Usman Radhiallahu Anhum. Kaum Syiah kemudian berpecah menjadi 22 aliran.
3. Kaum Mu’tazilah 
Kaum yang berpaham bahwa Tuhan tidak memeliki sifat, bahwa manusia membuat perbuatannya sendiri, bahwa Tuhan tidak bisa dilihat dengan mata dalam syurga, bahwa orang yang mengerjakan dosa besar diletakkan di antara dua tempat, dan mi’raj Nabi Muhammad hanya dengan ruh saja, dan lain-lain. Kaum Mu’tazilah kemudian berpecah menjadi 20 aliran.
4. Kaum Murji’ah
Kaum yang memfatwakan bahwa membuat ma’siyat (kedurhakaan) tidak memberi mudharat kalau sudah beriman, sebagai keadaannya membuat kebajikan tidak memberi manfa’at kalau kafir. Kaum Murji’ah kemudian berpecah menjadi 5 aliran.
5. Kaum Najariyah 
Kaum yang memfatwakan bahwa perbuatan manusia adalah makhluk, yakni dijadikan Tuhan, tetapi mereka berpendapat bahwa sifat Tuhan tidak ada. Kaum Najariyah pecah menjadi 3 aliran.
6. Kaum Jabariyah
Kaum yang memfatwakan bahwa manusia ‘majbur’, artinya tidak berdaya apa-apa. Kasab atau usaha tidak ada sama sekali. Kaum ini hanya 1 aliran.
7. Kaum Musyabbihah
Kaum yang memfatwakan bahwa ada keserupaan Tuhan dengan manusia, umpamanya bertangan, berkaki, duduk di Kursi, naik tangga, turun tangga dan lain-lainnya. Kaum ini hanya 1 aliran saja.
  • Kaum Syi’ah 22 Aliran
  • Kaum Khawarij 20 Aliran
  • Kaum Mu’tazilah 20 Aliran
  •  Kaum Murjiah 5 Aliran
  • Kaum Najariah 3 Aliran
  • Kaum Jabariah 1 Aliran
  • Kaum Musyabbihah 1 Aliran
Jadi, jumlahnya adalah 72 Aliran.

I'tiqad Ahlusunnah Waljamaah
Karangan KH. Sirajuddin Abbas

MADZHAB AL-ASY’ARI DAN MADZHAB FIQIH YANG EMPAT

Dalam bidang fiqih dan amaliah, Ahlussunnah wal jama’ah mengikuti pola bermadzhab dengan mengikuti salah satu madzhab fiqh yang dideklarasikan oleh para ulama yang mencapai tingkatan mujtahid mutlaq. Beberapa madzhab fiqh yang sempat eksis dan diikuti oleh kaum Muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah ialah madzhab Hanafi. Maliki, Syafi’i, Hanbali, madzhab Sufyan al-Tsauri, Sufyan bin Uyainah, ibn Jarir, Dawud al-Zhahiri, al-Laits bin Sa’ad, al-Auza’i, Abu Tsaur dan lain-lain. Namun kemudian dalam perjalanan panjang sejarah Islam, sebagian besar madzhab-madzhab tersebut tersisih dalam kompetisi sejarah dan kehilangan pengikut, kecuali empat madzhab yang tetap eksis dan berkembang hingga dewasa ini. Pengikut empat madzhab tersebut, diakui sebagai kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Berkaitan dengan hal tersebut, disini perlu dikemukakan sebuah pertanyaan, dimanakah letak posisi madzhab al-Asy’ari di kalangan pengikut madzhab fiqh yang empat? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita ikuti penjelasan berikut ini secara rinci tentang posisi madzhab al-Asy’ari di kalangan pengikut madzhab fiqh yang empat. (1)

Madzhab Hanafi

Madzhab Hanafi ini didirikan oleh al-Imam abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit al-Kufi (80 – 150 H / 699-767 M). Pada mulanya madzhab Hanafi ini diikuti oleh kaum Muslimin yang tinggal di Irak, daerah tempat kelahiran abu Hanifah, pendirinya. Namun kemudian, setelah Abu Yusuf menjabat sebagai hakim agung pada masa Daulah Abbasiyyah, madzhab Hanafi menjadi populer di negeri-negeri Persia, Mesir, Syam dan Maroko. Dewasa ini, madzhab Hanafi diikuti oleh kaum Muslimin di Negara-negara Asia Tengah, yang dalam referensi klasik dikenal dengan negeri seberang Sungai Jihun (sungai Amu Daria dan Sir Daria), Negara Pakistan, Afghanistan, India, Bangladesh, Turki, Albania, Bosnia dan lain-lain.
Dalam bidang ideologi, mayoritas pengikut madzhab Hanafi mengikuti madzhab al-Maturidi. Sedangkan ideologi madzhab al-Maturidi sama dengan ideologi madzha al-Asy’ari. Antara keduanya memang terjadi perbedaan dalam beberapa masalah, tetapi perbedaan tersebut hanya bersifat verbalistik (lafzhi), tidak bersifat prinsip dan substantif (haqiqi dan ma’nawi). Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa pengikut madzhab al-Maturidi adalah pengikut madzhab al-Asy’ari juga. Demikian pula sebaliknya, pengikut madzhab al-Asy’ari adalah pengikut madzhab al-Maturidi juga. Dalam hal tersebut al-Imam Tajuddin as-Subki mengatakan, “Mayoritas pengikut Hanafi adalah pengikut madzhab al-Asy’ari, kecuali sebagian kecil yang mengikuti Mu’tazilah.”
Madzhab Maliki
Madzhab Maliki ini dinisbahkan kepada pendirinya, al-Imam Malik bin Anas al-Ashbahi (93-179 H/712-795 M). Madzhab ini diikuti oleh mayoritas kaum muslimin di Negara-negara Afrika, seperti Libya, Tunisia, Maroko, Aljazair, Sudan, Mesir, dan lain-lain. Dalam bidang teologi, seluruh pengikut madzhab Maliki mengikuti madzhab al-Asy’ari tanpa terkecuali. Berdasarkan penelitian al-Imam Tajuddin as-Subki, belum ditemukan di kalangan pengikut madzhab Maliki, seorang yang mengikuti selain madzhab al-Asy’ari.
Madzhab Syafi’i
Madzhab Syafi’i ini didirikan oleh al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (150-204 H/767-820 M). Madzhab Syafi’i ini diakui sebagai madzhab fiqh terbesar jumlah pengikutnya di seluruh dunia. Tidak ada madzhab fiqh yang memiliki jumlah beitu besar seperti madzhab Syafi’i, yang diikuti oleh mayoritas kaum Muslimin Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia. Filipina, Singapura, Thailand, India bagian Selatan seperti daerah Kirala dan Kalkutta, mayoritas Negara-negara Syam seperti Syiria, Yordania, Lebanon, Palestina, sebagian besar penduduk Kurdistan, Kaum Sunni di Iran, mayoritas penduduk Mesir dan lain-lain.
Dalam bidang ideologi, mayoritas pengikut madzhab Syafi’i mengikuti madzhab al-Asy’ari sebagaimana ditegaskan oleh al-Imam Tajuddin as-Subki, kecuali beberapa gelintir tokoh yang mengikuti faham Mujassimah dan Mu’tazilah.
Madzhab Hanbali
Madzhab Hanbali ini didirikan oleh al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal al-Syaibani (164-241 H/780-855 M). Madzhab Hanali ini adalah madzhab yang paling sedikit jumlah pengikutnya, karena tersebarnya madzhab ini berjalan setelah madzhab-madzhab lain tersosialisasi dan mengakar di tengah masyarakat. Madzhab ini diikuti oleh mayoritas penduduk Najd, sebagian kecil penduduk Syam dan Mesir. Dalam bidang ideologi, mayoritas ulama Hanbali  yang utama (fudhala’), pada abad pertengahan dan sebelumnya, mengikuti madzhab al-Asy’ari. Di antara tokoh-tokoh madzhab Hanbali yang mengikuti madzhab al-Asy’ari ialah al-Imam ibn Sam’un al-Wa’izh, Abu Khaththab al-Kalwadzani, Abu al-Wafa bin ‘Aqil, al-Hafizh ibn al-Jawzi dan lain-lain. Namun kemudian sejak abad pertengahan terjadi kesenjangan hubungan antara pengikut madzhab al-Asy’ari dengan pengikut madzhab Hanbali.
Berdasarkan penelitian al-Hafizh ibn Asakir al-Dimasyqi, pada awal-awal metamorfosa berdirinya madzhab al-Asy’ari, para ulama Hanbali bergandengan tangan dengan para ulama al-Asy’ari dalam menghadapi kelompok-kelompok ahli id’ah seperti Mu’tazilah, Syi’ah, Khawarij, Murji’ah dan lain-lain. Ulama Hanbali dalam melawan argumentasi kelompok-kelompok ahli bid’ah, biasanya menggunakan senjata argumentasi ulama al-Asy’ari. Dalam bidang teologi dan ushul fiqh, para ulama Hanbali memang belajar kepada ulama madzhab al-Asy’ari. Hingga akhirnya terjadi perselisihan antara madzhab al-Asy’ari dan madzhab Hanbali pada masa al-Imam Abu Nashr al-Qusyairi dan pemerintahan Perdana Menteri Nizham al-Mulk. Sejak saat itu, mulai terpolarisasi kebencian antara pengikut madzhab al-Asy’ari dan madzhab Hanbali. (2)
Dalam catatan sejarah diterangkan, bahwa al-Imam abu al-Hasan al-Asy’ari sendiri memiliki hubungan akrab dan jalinan persaudaraan yang erat dengan para ulama Bani Tamim di Baghdad yang mengikuti madzhab Hanbali. Para ulama Bani Tamim tersebut adalah nenek moyang al-Imam Abu Muhammad Rizqullah bin Abdul Wahhab al-Tamimi al-Baghdadi, ulama madzhab Hanbali terkemuka pada masanya. Dari hubungan erat antara al-Asy’ari dengan keluarga Bani Tamim, pada akhirnya berlanjut pada masuknya ulama-ulama Hanbali dari Bani Tamim ke dalam madzhab al-Asy’ari seperti al-Imam Abu al-Khaththab al-Kalwadzani.
Jalinan erat dan hamonis antara al-Asy’ari dengan Bani Tamim tersebut, berlanjut hingga periode murid-murid mereka(3).
Al-Imam al-Syarif abu Ali al-Hasyimi al-Hanbali berkata: “Aku menghadiri rumah guru kami, al-Imam abu al-Hasan Abdul Aziz bin al-Harits al-Tamimi al-Hanbali pada tahun 370 H, dalam suatu jamuan yang diadakan untuk murid-murid beliau (pengikut madzhab Hanbali). Jamuan tersebut dihadiri oleh Abu Bakar al-Abhari (guru ulama madzhab Maliki), Abu al-Qasim al-Daraki (guru ulama madzhab Syafi’i), abu al-Hasan Thahir bin al-Hasan (guru ulama ahli hadits), abu al-Husain bin Sam’un al-Asy’ari (guru para zahid dan wa’izh), abu Abdillah bin Mujahid (guru para teolog), dan muridnya Abu Bakar al-Baqillani, di rumah guru kami, abu al-Hasan al-Tamimi (guru ulama Hanbali).”
Abu ali al-Hasyimi berkata: “Andaikan atap rumah tersebut jatuh menimpa mereka, maka di Iraq tidak ada seorang pun yang sederajat dengan mereka dalam berfatwa.”
Riwayat di atas menggambarkan terjalinnya hubungan yang sangat mesra antara ibn Mujahid dan ibn Sam’un (yang merupakan pakar teologi dan murid al-Asy’ari) dengan Abu al-Hasan al-Tamimi, tokoh terkemuka ulama Hanbali pada masanya. Hubungan mesra tersebut berlanjut hingga masa al-Baqillani.
Al-Imam Abu Abdillah al-Damaghani meriwayatkan bahwa ketika al-Imam al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani datang ke Baghdad, beliau diundang menghadiri jamuan makan oleh al-Imam Abu al-Hasan al-Tamimi al-Hanbali (guru ulama Hanbali di Baghdad pada masanya). Dalam acara jamuan itu, turut pula hadir al-Imam Abu Abdillah bin Mujahid (teolog dan murid al-Asy’ari), al-Imam ibn Sam’un al-Hanbali dan Abu al-Hasan al-Tamimi sendiri. Dalam pertemuan tersebut, akhirnya terjadi perdebatan sengit tentang masalah ijtihad antara al-Baqillani dengan ibn Mujahid. Perdebatan tersebut baru selesai setelah fajar shubuh menyingsing dengan kemenangan di pihak al-Baqillani. Melihat kehebatan al-Baqillani dalamkeilmuannya, al-Imam abu al-Hasan al-Tamimi berkata kepada murid-muridnya, “Ikutilah laki-laki ini (al-Baqillani). Karena sunnah selalu membutuhkannya.”
Hubungan mesra antara madzhab Hanbali dengan madzhab al-Asy’ari pada masa al-Baqillani juga ditandai dengan pengakuan al-Imam abu al-Fadhl al-Tamimi al-Hanbali yang mengatakan, “Aku tidur bersama al-Qadhi abu al-Thayyib al-Baqillani di atas satu bantal selama tujuh tahun.” Bahkan ketika al-Imam al-Baqillani wafat, al-Imam abu al-Fadhl al-Tamimi melakukan ta’ziyyah bersama keluarga dan murid-muridnya agar mengumumkan di depan jenazah al-Baqillani, “Inilah ulama pembela sunnah dan agama. Inilah imam kaum Muslimin. Inilah orang yang membela syariat dari tuduhan para penentang. Inilah orang yang mengarang tujuh puluh ribu halaman kitab sebagai bantahan terhadap kaum mulhid (sesat).” Ia bersama murid-muridnya berta’ziyyah selama tiga hari. Dan setelah itu, al-Tamimi secara rutin berziatah ke makam al-Baqillani setiap hari Jum’at. (4)
Pada masa al-Imam Abu Muhammad al-Ashbihani (w. 446 H/1054 M), murid al-Baqillani yang dikenal dengan julukan ibn al-Labban, agaknya terjadi kesenjangan hubungan antara pengikut madzhab al-Asy’ari dengan pengikut madzhab Hanbali. Tetapi kesenjangan hubungan tersebut tidak sampai berpengaruh terhadap hubungan mesra sesame ulama mereka. Ketika al-Imam ibn al-Labban tinggal di Baghdad, al-Qadhi abu Ya’la bin al-Farra’ dan Abu Muhammad al-Tamimi, guru ulama madzhab Hanbali pada masanya, secara diam-diam ikut menghadiri perkuliahan ushul fiqh dan teologi ibn al-Labban di rumahnya. Pada saat itu, Abu Ya’la maupun Abu Muhammad al-Tamimi sama-sama merahasiakan kedatangannya ke rumah ibn al-Labban. Hingga suatu ketika, keduanya bertemu di gang sempit menuju rumah ibn al-Labban. Lalu abu Ya’la bertanya kepada Abu Muhammad, “Kamu mau pergi ke mana?” Abu Muhammad menjawab, “Ke rumah orang yang akanAmda datangi juga.” Abu Ya’la berkata, “Ah, kalau begitu, tolong rahasiakan kedatanganku ke sini. Aku akan merahasiakan juga kedatanganmu.” Akhirnya keduanya sepakat untuk tidak menghadiri lagi perkuliahan al-Imam ibn al-Labban, karena khawatir kalangan awam pengikut Hanbali mengetahui ulah keduanya yang belajar kepada ibn al-Labban al-Asy’ari.(5)
Hubungan mesra antara ulama Hanbali dan ulama al-Asy’ari terjalin sampai masanya al-Imam Abu Nashr al-Qusyairi (w. 514 H/1120 M) dan pemerintahan Perdana Menteri Nizham al-Amulk (408-485 H/1018-1092 M). Sejak saat itu mulailah terjadi polarisasi antara ulama al-Asy’ari dengan ulama Hanbali. Terjadinya polarisasi tersebut seperti diceritakan oleh al-Hafizh Abdul Ghafir al-Farisi (451-529 H/1059-1135 M) dalam kitab al-Siyaq fi Tarikh Naisabur, berawal dari kepribadian al-Imam Abu Nashr al-Qusyairi, yang terkenal sebagai sosok ulama yang wara’, zuhud, ‘alim dan kharismatik. Ketika al-Qusyairi tinggal di Baghdad dan memberikan ceramah di Masjid Jami’, banyak masyarakat yang tertarik dengan ceramahnya. Tidak sedikit dari mereka yang semula berkubang dalam lumpur kemaksiatan, kini kembali bertaubat dan mengikuti kebenaran. Mereka yang semula terjun dalam lumpur ideologi bid’ah, kembali ke ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah begitu mendengar ceramahnya. Bahkan dalam setiap majelis pengajian yang disampaikannya, tidak jarang kalangan pengikut agama lain seperti Yahudi, Nasrani dan lain-lain menyatakan masuk Islam di hadapannya. Banyak pula mereka yang semula mengikuti paham mujassimah, berpindah ke madzhab al-Asy’ari. Hal tersebut mengundang kemarahan dan iri hati kalangan mujassimah yang bermadzhab Hanbali di Baghdad, yang sering tersinggung dengan ceramah al-Qusyairi yang tidak jarang diselingi dengan materi ideology al-Asy’ari dan serangan terhadap ideologi madzhab lain. Hal itu akhirnya mengobarkan kemarahan pengikut Mujassimah untuk melakukan kerusuhan sehingga mengakibatkan jatuhnya Korban jiwa. Sejak saat itu, mulailah terjadi polarisasi antara kaum Mujassimah dari sebagian kalangan pengikut Hanbali dengan pengikut Asy’ari. (6)

Referensi:
1)    Tajuddin as-Subki, Thabaqat al-Syafi’iyyah al-Kubra, juz 3, (Kairo: al-Halabi), Halaman 366, edisi Abdul Fattah Muhammad al-Halw dan Mahmud al-Thanahi. Dan Mu’id an-Ni’am wa Mubid an-Niqam (Kairo: al-Khanji, 1993), halaman 75, edisi Muhammad Ali an-Najjar.
2)    Al-Hafizh ibn ‘Asakir, Tabyin Kidzb al-Muftari (Damaskus: at-taufiq, 1347 H), halaman 163.
3)    Al-Hafizh ibn ‘Asakir, Tabyin Kidzb al-Muftari (Damaskus: at-taufiq, 1347 H), halaman 390.
4)    Al-Hafizh ibn ‘Asakir, Tabyin Kidzb al-Muftari (Damaskus: at-taufiq, 1347 H), halaman 221.
5)    Al-Hafizh ibn ‘Asakir, Tabyin Kidzb al-Muftari (Damaskus: at-taufiq, 1347 H), halaman 262.
6)    Al-Hafizh ibn ‘Asakir, Tabyin Kidzb al-Muftari (Damaskus: at-taufiq, 1347 H), halaman 308.

[Madzhab al-Asy’ari Benarkah Ahlussunnah Wal Jama’ah? 
Jawaban terhadap Aliran Salafi, karya Muhammad Idrus Ramli]

Berita/Info

Al-Mauidzah

Tauhid

Fiqh dan Usul Fiqh

Syiah

Salafi Wahabi

Subscribe to our Newsletter

*klik subscribe untuk berlangganan gratis via e-mail Feedburner

Contact our Support

Email us: sunnisalafiyah@gmail.com

Our Team Members